Sabtu, 09 Mei 2015

Palu Menghancurkan Kaca, Tetapi Palu Membentuk Baja

Apa makna dari pepatah kuno seperti judul diatas?

Palu itu di-ibaratkan sebagai masalah dan persoalan yang ada dalam kehidupan.

Sementara Kaca dan Baja di-ibaratkan mental kita saat menghadapi masalah dan bagaimana cara kita mencari jalan keluarnya.

Jika kita di-ibaratkan kaca.
Jika kita adalah kaca, kita akan selalu melihat palu sebagai musuh yang akan menghancurkan kita.
Jika jiwa kita rapuh seperti kaca maka kita rentan terhadap benturan, ketika palu/masalah menghantam, kita mudah tersinggung, kecewa, marah, atau sakit hati saat kita berhubungan dengan orang lain, mudah putus asa dan frustrasi sehingga kita seperti remuk redam. Sedikit benturan sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan hidup kita.

Jika kita di-ibaratkan Baja.
Jika kita adalah “baja”, kita akan selalu melihat palu yang menghantam kita sebagai sahabat yang akan membentuk kita.
Jika jiwa kita kuat seperti baja, maka kita memiliki mental yang selalu positif, bahkan tetap bersyukur di saat masalah dan keadaan yang benar-benar sulit tengah menghimpitnya. Mengapa demikian? Orang yang seperti ini selalu menganggap bahwa “masalah adalah proses kehidupan untuk membentuknya menjadi lebih baik”. Sepotong besi baja akan menjadi sebuah alat yang lebih berguna setelah lebih dulu diproses dan dibentuk dengan palu. Setiap pukulan memang menyakitkan, namun mereka yang bermental baja selalu menyadari bahwa itu baik untuk dirinya.

Jangan pernah jadi kaca, tapi jadilah baja.
Jika hari ini kita sedang ditindas oleh masalah hidup, jangan pernah merespons dengan sikap yang keliru!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar