Rabu, 06 Mei 2015

Menteri Yang Bijak

Alkisah ada seorang raja yang memiliki 10 anjing ganas untuk menghukum menterinya yang salah.
Jika sang Raja tidak berkenan maka menteri yang salah akan dilempar ke kandang agar dicabik oleh anjing ganas tersebut.

Suatu hari salah seorang menteri membuat keputusan yang salah dan membuat sang Raja murka.
Maka diperintahkanlah algojonya untuk memasukkan sang menteri ke kandang anjing ganas.

Menteri berkata: "Paduka, saya telah mengabdi padamu selama 10 tahun, tapi paduka tega menghukum saya seperti ini. Atas pengabdian saya selama ini saya hanya minta waktu penundaan hukuman 10 hari saja".
Dan singkat cerita Sang Raja pun mengabulkannya.

Sang menteri bergegas menuju ke kandang anjing tersebut dan meminta izin kepada penjaga kandang untuk mengurus anjing-anjingnya.
Ketika penjaga bertanya “untuk apa?”
Maka dijawab oleh sang menteri : "Setelah 10 hari nanti engkau akan tahu''.
Karena menteri yang meminta seperti itu maka penjaga member izin.

Selama 10 hari itu sang menteri memelihara, mendekati, memberi makan bahkan akhirnya bisa memandikan anjing-anjing tersebut hingga menjadi sangat jinak padanya.
Tibalah waktu eksekusi, disaksikan oleh Raja dimasukkanlah sang menteri ke kandang anjing, tetapi Raja kaget saat melihat anjing-anjing itu justru jinak padanya.

Maka dia bertanya apa yang telah dilakukan menteri pada anjing-anjing tersebut?
Karena semua yang hadir tidak memberikan jawaban maka sang menteripun angkat bicara dan memberikan penjelasan kepada sang Raja.
"Paduka, saya telah mengabdi pada anjing-anjing ini selama 10 hari dan mereka tidak melupakan jasa saya. Sementara Paduka….., saya telah mengabdi pada Paduka selama 10 tahun, dan Paduka tega menjatuhkan hukuman seperti ini pada saya".

Maka terharulah sang Raja, sambil meleleh airmatanya Iapun memerintahkan algojo-algojonya untuk membebaskan sang menteri dari hukuman itu.



Jangan mudah menghapus kenangan dan persahabatan yang telah terukir bertahun-tahun lamanya hanya karena hal-hal kecil yang kurang kita sukai padanya saat ini. Apalagi jika penilaian kita padanya lebih didominasi subyektifitas kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar